September 5, 2017

Yuk, Mengenal Lebih Dalam Tentang Televisi

  • by Opa Maria
  • 11 Months ago
  • Comments Off

Siapa yang tidak tahu dengan benda yang satu ini. Yap, televisi memang sudah menjadi barang yang selalu ada di rumah dan di cafe. Namun, tahukah kamu bagaimana terciptanya televisi? Nah, pada kesempatan kali ini saya akan memberitahkan dan menjelaskannya secara lengkap. Langsung saja simak dibawah ini.

Pengertian Televisi

Televisi adalah sebuah media telekomunikasi terkenal yang berfungsi sebagai penerima siaran gambar bergerak beserta suara, baik itu yang monokrom (hitam-putih) maupun berwarna. Kata “televisi” merupakan gabungan dari kata tele (jauh) dari bahasa Yunani dan visio (“penglihatan”) dari bahasa Latin, sehingga televisi dapat diartikan sebagai “alat komunikasi jarak jauh yang menggunakan media visual atau penglihatan.”

Penggunaan kata “Televisi” sendiri juga dapat merujuk kepada “kotak televisi”, “acara televisi”, ataupun “transmisi televisi”. Penemuan televisi disejajarkan dengan penemuan roda, karena penemuan ini mampu mengubah peradaban dunia. Di Indonesia “televisi” secara tidak formal sering disebut dengan TV.

Pada tahun 1920-an, kotak televisi pertama kali dijual secara komersial dan sejak saat itu televisi telah menjadi barang biasa di rumah, kantor bisnis, maupun institusi, khususnya sebagai sumber kebutuhan akan hiburan dan berita serta menjadi media periklanan.

Sejak 1970-an, kemunculan kaset video, cakram laser, DVD dan kini cakram Blu-ray, juga menjadikan kotak televisi sebagai alat untuk melihat materi siaran serta hasil rekaman. Dalam beberapa tahun-tahun terakhir, siaran televisi telah dapat diakses melalui Internet.

Walaupun terdapat bentuk televisi lain seperti televisi sirkuit tertutup, namun jenis televisi yang paling sering digunakan adalah televisi penyiaran, yang dibuat berdasarkan sistem penyiaran radio yang dikembangkan sekitar tahun 1920-an, menggunakan pemancar frekuensi radio berkekuatan tinggi untuk memancarkan gelombang televisi ke penerima gelombang televisi.

Penyiaran TV biasanya disebarkan melalui gelombang radio VHF dan UHF dalam jalur frekuensi yang ditetapkan antara 54-890 megahertz. Kini gelombang TV juga sudah memancarkan jenis suara stereo ataupun bunyi keliling di banyak negara. Hingga tahun 2000, siaran TV dipancarkan dalam bentuk gelombang analog, tetapi belakangan ini perusahaan siaran publik maupun swasta kini beralih ke teknologi penyiaran digital.

Sebuah kotak televisi terdiri dari bermacam-macam sirkuit elektronik didalamnya, termasuk di antaranya sirkuit penerima dan penangkap gelombang penyiaran. Perangkat tampilan visual yang tidak memiliki perangkat penerima sinyal biasanya disebut sebagai monitor, bukannya televisi.

Sebuah sistem televisi dapat dipakai dalam berbagai penggunaan teknologi seperti analog (PAL, NTSC, SECAM), digital (DVB, ATSC, ISDB dsb.) ataupun definisi tinggi (HDTV). Sistem televisi kini juga digunakan untuk pengamatan suatu peristiwa, pengontrolan proses industri, dan pengarahan senjata, terutama untuk tempat-tempat yang biasanya terlalu berbahaya untuk diobservasi secara langsung.

Televisi amatir (ham TV atau ATV) digunakan untuk kegiatan percobaan dan hiburan publik yang dijalankan oleh operator radio amatir. Stasiun TV amatir telah digunakan pada kawasan perkotaan sebelum kemunculan stasiun TV komersial. Televisi telah memainkan peran penting dalam sosialisasi abad ke-20 dan ke-21. Pada tahun 2010, iPlayer digunakan dalam aspek media sosial dalam bentuk layanan televisi internet, termasuk di antaranya adalah Facebook dan Twitter.

Televisi merupakan media elektronik yang paling sempurna dan mempunyai efek yang paling besar terhadap khalayak dibanding dengan media elektronik lainnya seperti radio, karena televisi merupakan media audiovisual yang bersifat informatif, hiburan, pendidikan, dan juga alat kontrol sosial.

Dengan kesempurnaan teknologi media televisi, televisi mampu menjadi media penyiaran yang paling diminati dan digunakan oleh masyarakat luas pada saat ini dibanding dengan media lainnya seperti radio, majalah, koran, dan media lainnya.

Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa televisi pada saat ini merupakan salah satu sarana media yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia. Sudah menjadi sesuatu yang wajar jika seseorang lebih tertarik untuk melihat sekaligus mendengarkan sebuah informasi melalui televisi, ketimbang hanya mendengarkan lewat radio ataupun membaca koran.

Hal tersebut membuat televisi menjadi media elektronik primadona, yang menjadi sumber informasi utama dari setiap peristiwa yang ada. Dengan manfaat pentingnya tersebut, televisi terus mengalami perkembangan dari masa ke masa.

Sejarah Televisi

Pada masa awal perkembangannya, televisi menggunakan gabungan teknologi optik, mekanik, dan elektronik untuk merekam, menampilkan, dan menyiarkan gambar visual. Bagaimanapun, pada akhir 1920-an, sistem pertelevisian yang hanya menggunakan teknologi optik dan elektronik saja telah dikembangkan, di mana semua sistem televisi modern menerapkan teknologi ini.

Walaupun sistem mekanik akhirnya tidak lagi digunakan, pengetahuan yang didapat dari pengembangan sistem elektromekanis sangatlah penting dalam pengembangan sistem televisi elektronik penuh.

Gambar pertama yang berhasil dikirimkan secara elektrik adalah melalui mesin faksimile mekanik sederhana, (seperti pantelegraf) yang dikembangkan pada akhir abad ke-19. Konsep pengiriman gambar bergerak yang menggunakan daya elektrik pertama kali diuraikan pada 1878 sebagai “teleponoskop” (konsep gabungan telepon dan gambar bergerak), tidak lama setelah penemuan telepon. Pada saat itu, para penulis fiksi ilmiah telah membayangkan bahwa suatu hari nanti cahaya juga akan dapat dikirimkan melalui medium kabel, seperti halnya suara.

Ide untuk menggunakan sistem pemindaian gambar untuk mengirim gambar pertama kali dipraktikkan pada 1881 menggunakan pantelegraf, yaitu menggunakan mekanisme pemindaian pendulum. Semenjak itu, berbagai teknik pemindaian gambar telah digunakan di hampir setiap teknologi pengiriman gambar, termasuk televisi. Inilah konsep yang bernama “perasteran”, yaitu proses mengubah gambar visual menjadi arus gelombang elektrik.

1880-an: Cakram Nipkow

Pada tahun 1884, Paul Gottlieb Nipkow, seorang mahasiswa 23 tahun di Jerman, mematenkan sistem televisi elektromekanik yang menggunakan cakram Nipkow, sebuah cakram berputar dengan serangkaian lubang yang disusun secara spiral ke pusat cakaram yang digunakan dalam proses perasteran.

Setiap lubang cakram diposisikan dengan selisih sudut yang sama agar dalam setiap putarannya cakram tersebut dapat meneruskan cahaya melalui setiap lubang hingga mengenai lapisan selenium peka cahaya yang menghasilkan denyut elektrik. Seiring dengan peletakan posisi gambar yang difokuskan dipusat cakram, setiap lubang akan memindai setiap “iris” horizontal dari keseluruhan gambar.

Alat buatan Nipkow ini tidak benar-benar dapat dipraktikkan hingga adanya kemajuan dalam teknologi tabung penguat. Namun, alat tersebut hanya dapat memancarkan gambar “halftone” dikarenakan lubang dengan posisi tertentu dengan ukuran berbeda-beda — melalui kabel telegraf atau telepon.

Rancangan selanjutnya adalah menggunakan pemindai mirror-drum berputar sebagai perekam gambar dan tabung sinar katode (CRT) sebagai perangkat tampilan. Pada 1907, seorang ilmuwan Rusia, Boris Rosing, menjadi penemu pertama yang menggunakan CRT dalam perangkat penerima dari sistem televisi eksperimental. Dia menggunakan pemindai “mirror-drum” untuk mengirim gambar geometrik sederhana ke CRT. Namun, untuk merekam gambar bergerak masih tidak dapat dilakukan, karena kepekaan detektor selenium yang rendah.

1920-an: Penemuan John Logie Baird

Penemu asal Skotlandia, John Logie Baird berhasil menunjukan cara pemancaran gambar-bayangan bergerak di London pada tahun 1925, diikuti gambar bergerak monokrom pada tahun 1926. Cakram pemindai Baird dapat menghasilkan gambar beresolusi 30 baris (cukup untuk memperlihatkan wajah manusia) dari lensa dengan spiral ganda.

Demonstrasi oleh Baird ini telah disetujui secara umum oleh dunia sebagai demonstrasi televisi pertama, sekalipun televisi mekanik tidak lagi digunakan. Pada tahun 1927, Baird juga menemukan sistem rekaman video pertama di dunia, yaitu “Phonovision”, yaitu dengan memodulasi sinyal output kamera TV-nya ke dalam kisaran jangkauan audio, dia dapat merekam sinyal tersebut pada cakram audio 10 inches (25 cm) dengan menggunakan teknologi rekaman audio biasa.

Hanya sedikit rekaman “Phonovision” Baird yang masih ada dan rekaman-rekaman yang masih bertahan tersebut kemudian diterjemahkan dan diproses menjadi gambar yang dapat dilihat pada 1990-an menggunakan teknologi pemrosesan-sinyal digital.

Pada 1926, seorang insinyur Hungaria, Kálmán Tihanyi, merancang sistem televisi dengan perangkat pemindaian dan tampilan yang sepenuhnya elektronik, dan menggunakan prinsip “penyimpanan isi” di dalam tabung pemindai (atau “kamera”).

Pada 1927, seorang penemu Rusia, Léon Theremin, mengembangkan sistem televisi dengan mirror-drum yang menggunakan sistem “video terjalin” untuk menghasilkan resolusi gambar 100 baris.

Pada tahun yang sama, Herbert E. Ives dari Bell Labs berhasil mengirimkan gambar bergerak dari sebuah cakram 50-tingkap yang menghasilkan 16 gambar per menit melalui medium kabel dari Washington, D.C. ke New York City, dan juga melalui gelombang radio dari Whippany, New Jersey. Ives menggunakan layar penayang sebesar 24 x 30 inci (60 x 75 cm). Subjek rekamannya termasuk salah satunya Sekretaris Perdagangan Amerika saat itu, Herbert Hoover.

Pada tahun yang sama pula, Philo Farnsworth berhasil membuat sistem televisi pertama di dunia dengan pemindai elektronik pada kedua perangkat tampilan dan pickup,[13] di mana temuannya ini pertama kali ia demonstrasikan di depan media pers pada 1 September 1928.

1930-an: Penyebaran dan Penerimaan Masyarakat

Pada tahun 1936, untuk pertama kalinya olimpiade Berlin disiarkan ke stasiun televisi di Berlin dan Leipzig di mana masyarakat umum dapat menyaksikan setiap perlombaan langsung. Pada masa awal televisi, kotak televisi elektromekanik mulai secara komersial dijual dari tahun 1928 hingga 1934 di Inggris, Amerika Serikat, dan Rusia.

Televisi komersial pertama dijual oleh Baird di Britania Raya pada tahun 1928 dalam bentuk penerima radio ditambah dengan komponen-komponen seperti tabung neon di belakang cakram Nipkow yang menghasilkan gambar kemerahan berukuran sebesar perangko pos yang dapat diperbesarkan lagi menggunakan lensa pembesar. “Televisor” ciptaan Baird ini juga dapat digunakan tanpa radio. Televisor yang dijual pada tahun 1930–1933 merupakan pemasaran televisi masal yang pertama. Kira-kira 1.000 unit Televisor berhasil dijual.

Kotak televisi elektronik komersial pertama dengan tabung sinar katode diproduksi oleh Telefunken di Jerman pada 1934, diikuti oleh produsen elektronik yang lain di Perancis (1936), Britania Raya (1936), dan Amerika Serikat (1938).

Pada tahun 1936, Kálmán Tihanyi menerangkan prinsip televisi plasma, yaitu sistem panel datar yang pertama.

Pada tahun 1938 di Amerika, televisi berukuran 3 inches (7,6 cm) dijual seharga 125 USD (setara dengan 1.863 USD pada tahun 2007.) Model termurah televisi berukuran 12 inches (30 cm) adalah seharga $445 (setara dengan $6.633 per 2007).

Kira-kira sebanyak 19.000 unit televisi elektronik telah diproduksi di Britania, 1.600 unit di Jerman, dan 8.000 unit di Amerika, sebelum akhirnya War Production Board terpaksa menghentikan produksi TV pada April 1942 karena pecahnya Perang Dunia II.

Penggunaan TV di Amerika Serikat meningkat kembali pasca Perang Dunia II setelah produksi TV diizinkan kembali pada Agustus 1945. Pasca perang, jumlah pemilik TV di Amerika meningkat sekitar 0,5% pada tahun 1946, lalu naik 55,7% pada tahun 1954, dan naik sampai 90% pada tahun 1962. Di Britania, jumlah pemilik TV meningkat dari 15.000 pada tahun 1947, lalu 1,4 juta pada tahun 1952, hingga 15,1 juta pada tahun 1968.

Tahun 1960-An: Penemuan Televisi Berwarna

Memasuki tahun 1960-an, teknologi televisi mulai berevolusi. Hal tersebut khususnya terlihat dari sisi kualitas gambar yang disajikan. Berbeda dengan era-era awal diperkenalkannya televisi, di tahun 1960-an ini, televisi berwarna telah mulai bermunculan. Dengan kualitas ini, televisi kemudian memiliki gambar yang lebih jelas. Warna yang dimunculkan menjadi lebih banyak. Kemajuan ini semakin meningkatkan ketertarikan publik terhadap televisi.

Stasiun-stasiun pemancar di beberapa negara besar semakin banyak bermunculan. Baik yang sifatnya swasta ataupun miliki pemerintah. Pilihan acara pun semakin variatif. Produsen-produsen televisi juga semakin banyak muncul. Tidak heran jika semakin banyak juga jumlah dan variasi produk-produk televisi yang dijual di pasaran.

1970-1980an: Teknologi Televisi Semakin Maju

Tahun 1970-1980, persaingan antar perusahan yang memproduksi televisi semakin ketat. Kondisi tersebut menyebabkan perusahaan-perusahaan tersebut berlomba-lomba untuk memproduksi televisi dengan teknologi yang semakin canggih, sehingga dapat menarik jumlah pembeli yang lebih banyak lagi.

Hal tersebut dapat dilihat dari sisi desain, yang lebih simpel dan praktis. Kemudian dari sisi kualitas gambar yang ditingkatkan, kemunculan teknologi TV kabel, dan sebagainya. Salah satu bentuk kemajuan yang bisa digarisbawahi di era ini adalah ditemukannya teknologi VCR (Video Cassette Recorder). Teknologi ini bermanfaat bagi para penggunanya untuk merekam siaran televisi.

Tahun 1990-An: Kualitas Gambar dan Teknologi Televisi Semakin Canggih

Kemajuan industri televisi semakin memuncak di era 1990-an. Di era ini, berbagai inovasi pada industri ini semakin banyak dilakukan. Di periode tersebut, beragam jenis televisi dengan teknologi CRT (Cathode Ray Tubes) mulai diperkenalkan. Di tahun 1997, televisi plasma muncul ke khalayak. Televisi jenis ini memiliki bentuk yang lebih ramping. Muncul juga TV Rear Projection LcoS serta TV LCD , yang memiliki kualitas lebih bagus dan lebih hemat energi.

Pada tahun 1999, muncul DVR (Digital Video Recorder) yang dapat merekam siaran televisi ke dalam hard drive. Teknologi-teknologi tambahan tersebut membuat televisi menjadi semakin memanjakan para pemirsanya.

Tahun 2000-Sekarang: Televisi Kualitas HD Dengan Beragam Model

Di era sekarang, televisi sudah berkembang menjadi lebih modern. Hal yang lain ditekankan adalah kualitas gambarnya yang memiliki kedetailan yang tinggi. Hal tersebut membuat gambar yang muncul di layar televisi menjadi lebih tajam dan jernih.

Televisi berkualitas HD terus dikembangkan. Ukuran dari televisi juga menjadi salah satu hal yang diperhatikan. Para produsen semakin berlomba untuk menyajikan sebuah produk televisi yang berkualitas gambar HD serta ukuran layar yang semakin lebar.

Selain itu, bentuk televisi juga semakin beragam dengan berbagai macam fungsi. di tahun 2007 misalnya, Apple memproduksi Apple TV, yang dapat dihubungkan dengan Itunes, program televisi, Film, Video Youtube, dan sebagainya. DI beberapa tahun terakhir ini teknologi 3D pada televisi semakin berkembang. Teknologi 3D ini membuat gambar menjadi lebih jernih, serta memunculkan gambar 3 dimensi. Bahkan, saat ini mulai dikembangkan televisi berteknologi 4D.

Karakteristik Televisi

Menurut (Syarifah Aminah dan Juniawati, 2013 : 56-57) berbicara tentang karakteristik sesuatu medium tidaklah terlepas dari aspek potensi atau keunggulan medium yang bersangkutan disatu sisi dan sekaligus juga aspek kelemahan atau keterbatasan medium tersebut disisi lainnya. Beberapa potensi atau keunggulan medium televisi dapat dilihat dari ciri spesifiknya yaitu antara lain:

  • Siaran televisi bersifat terbuka. Artinya siaran televisi mempunyai daya jangkau yang sangat luas dan mampu meniadakan batasan wilayah geografis
  • Siaran televisi memiliki potensi penetratik untuk mempengaruhi sikap, pandangan, gaya hidup, orientasi dan motivasi masyarakat
  • Siaran televisi dapat berhubungan langsung dengan pemirsa tanpa harus dibatasi oleh sistem politik, sosial, budaya dan masyarakat yang menjadi khalayak sasarannya.

Selain yang dikemukakan diatas, potensi lain yang menjadi karakteristik televisi adalah kemampuan untuk menayangkan berbagai obyek yang abstrak atau yang tidak dapat dilihat oleh mata, banyak yang berbahaya atau yang tidak dapat dijumpai dilingkungan tempat tinggal, obyek yang ditayangkan televisi dapat dimanfaatkan masyarakat pada saat yang bersamaan secara serempak dan meluas.

Setiap jenis media massa memiliki karakteristik baik secara fisik maupun dampak yang diakibatkanya, karena penelitian yang dilakukan adalah dari media massa televisi, maka pentingnya untuk memahami televisi secara fisik yang dapat dijelaskan sebagai berikut :

  • Media televisi adalah media elektronik. Medium televisi bekerja secara elektris, bermula dari sinar yang dikenakan pada objek atau benda, terbentuklah sinar pantul. Sinar pantul dilewatkan dengan sistem lensa sehingga terbentuklah gambar proyeksi (gejala sinar) diubah menjadi signal listrik atau gelombang elektromagnetik (gejala listrik) melalui pendekatan photo elektrik cell.
  • Media televisi adalah media audio visual gerak. Media televisi mengutamakan setiap gambar yang disajikan dipilih yang mengandung unsur gerak.
  • Media televisi adalah media transitor. Media televisi hanya meneruskan isi pesan yang berarti, isi pesan yang berarti isi pesan hanya didengar atau dilihat sekilas, maka penyusun naskah untuk karya jurnalistik harus tepat.
  • Media televisi adalah media non rinci. Media televisi tidak dapat menyajikan sisi pesan secara rinci karena sifat pesan atau informasi televisi hanya lewat begitu saja (transitory). Itulah sebabnya medium televisi tidak menguasai waktu tetapi menguasai ruang, oleh karena itu berita televisi disajikan sangat ringkas tiap berita.
  • Media televisi adalah ukuran ratio layer. Gambar yang mengandung unsur gerak atau lebih menarik ditonton dalam layar televisi relatif kecil.
  • Media televisi adalah media pandang dengar. Media televisi menyajikan informasi dalam bentuk audio visual secara sinkron.
  • Media televisi adalah media personal (close up media). Visual yang diliput sangat mengutamakan gambar-gambar clouse up (jarak dekat) karena ukuran layar televisi relatif kecil.
  • Media televisi adalah incorporate media. Media yang dapat untuk menyajikan media lain (slide, fotografik dan lain-lain).

Sedangkan menurut (Askurifai Baksin, 2006 : 63-68) karakteristik jurnalistik televisi adalah :

1. Penampilan Anchor (penyaji berita)

Media cetak mengandalkan rentetan kalimat dan kata-kata, sesekali ditingkahi dengan foto dan ilustrasi berita, kekuatan berita dimedia cetak ini tentunya pada aspek pemilihan kata terutama untuk headline (judul). Sementara sebagai pengait dan pemikat pembaca unsure lead (teras berita) menjadi kekuatan berikutnya.

Tanpa menutup realitas yang ada mayoritas masyarakat Indonesia masuk dalam ketegori headline readers (pembaca judul berita) yakni masyarakat yang lebih banyak membaca judul-judul berita, daripada membaca tuntas keseluruhan berita.

Mungkin karena masyarakat kita begitu sibuk sehingga tidak sempat membaca tubuh berita atau ada kemalasan tersendiri sehingga begitu memegang surat kabar yang dibaca hanya judul-judulnya saja, tetapi bila ada berita-berita yang cukup tinggi nilai kedekatannya baik dari segi geografis, peristiwa maupun ikatan emosional maka para headline readers juga akan membaca seluruh isi berita.

Dengan menampilan audiovisual, televisi mampu memberi alternatif totonan yang informatif. Dalam kondisi apapun televisi mampu memberi suguhan yang menyenangkan, alhasil ketika berhadapan dengan media surat kabar orang hanya membaca headline tetapi ketika menonton televisi begitu pasrah menerima apa saja yang disuguhkan.

Selain itu kedudukan seorang anchor dalam reporter dimonitor juga mempengaruhi persepsi dan penerimaan penonton, anchor yang tampak memiliki integritas dan cerdas mampu menghipnotis penonton untuk melototi tayangan berita.

Penampilan anchor yang santai, bersahabat dan komunikatif mampu mengajak penonton untuk lebih antusias mengukuti tayangan berita, sebaliknya jika penampilan terlalu kaku, formal sekali, kurang bersahabat serta tidak kelihatan integritasnya maka bisa jadi penonton langsung memindahkan channel televisinya.

2. Narasumber

Jika mendengar kata narasumber, langsung menuturkan kesaksian tentang suatu kejadian, layaknya mendapatkan kepuasan tersendiri itulah yang menjadi kelebihan televisi. Tetapi jika layaknya membaca surat kabar, dia hanya mampu membaca nama dan identitas para narasumber.

Berkaitan dengan penyampaian berita seorang reporter televisi harus mampu mengambil engle materi berita secara variatif, bisa jadi dalam sebuah berita penyusunannya mendahuluan pendapat narasumber yang langsung diuraikan oleh reporternya. Tapi pada kesempatan lain mungkin sebaliknya, uraian reporter didahulukan untuk kemudian disusul pendapat narasumber, kepandaian menyusun bahan berita inilah yang menjadi tuntutan seorang reporter televisi.

3. Bahasa

Hampir setiap bangsa didunia mempunyai bahasa sebagai bagian dari representasi kebudayaannya, bahasa yang mereka gunakan terutama dipakai sebagai media komunikasi. Sampai akhirnya ditemukan mesin cetak, bahasa tetap merupakan unsur esensial dalam mendukung suatu kegiatan komunikasi.

Antara bahasa sebagai sarana komunikasi verbal dan budaya memang tidak bisa dilepaskan, keduanya saling terkait dan memengaruhi. Bahasa merupakan cerminan dari budaya yang berlaku, sementara budaya menyebarluaskan nilai-nilai melalui bahasa.

4. Karakteristik Televisi Menentukan Karakteristik Bahasa Jurnalistik Televisi

  • Menggunakan bahasa sehari-hari, gaya bahasa percakapan atau kalimat tutur

Televisi adalah media audio-visual atau media pandang-dengar, pemirsa memandang gambar dan mendengar narasi. Penyiar atau presenter atau reporter membacakan narasi atau narasi untuk pemirsa. Penyiar, presenter, atau reporter seolah tengah bercakap-cakap dengan pemirsa, karena itu, kita harus menggunakan bahasa sehari-hari, bahasa percakapan atau kalimat tutur dalam berita televisi yang kita buat.

  • Menggunakan kata atau kalimat sederhana, menghindari kata asing, kata klise, istilah teknis dan eufimisme

Sifat atau karakteristik televisi adalah jangkauannya yang luas, itu artinya berita televisi menjangkau khalayak dari berbagai tingkat sosial-ekonomi. Jika untuk memperoleh informasi dari media cetak orang harus bisa membaca, untuk memperoleh informasi dari televisi orang tidak harus pandai membaca, artinya orang buta hurufpun bisa menonton berita televisi.

Karena itu, bahasa jurnalistik televisi harus bisa dipahami oleh rata-rata penonton televisi, bahasa yang dapat dipahami oleh rata-rata penonton televisi adalah bahasa yang sederhana, yang menghindari penggunaan kata asing atau istilah teknis yang belum umum, jika terpaksa menggunakan kata asing atau istilah teknis, upayakan menjelaskan arti atau maknanya.

  • Menggunakan kalimat pendek atau ekonomi kata

Kalimat panjang seringkali lebih sulit dimengerti dibanding kalimat pendek, padahal televisi bersifat sekilas dan satu arah, artinya ketika penonton tidak paham dengan berita yang kalimatnya terlampau panjang, dia tidak dapat mengulang mendengar berita tersebut.

Lagi pula, kekuatan berita ada pada gambar, jadi buat apa menggunakan kalimat yang panjang-panjang, selain itu, televisi mengutamakan kecepatan. Kalimat panjang hanya akan menjadikan alur berita berjalan lamban, tetapi jika suatu berita melulu terdiri dari kalimat-kalimat pendek, akan kedengaran membosankan.

  • Menghindari kalimat terbalik, subyek dan predikat berdekatan posisinya, jabatan mendahului nama pemangku jabatan

Karakteristik bahasa jurnalistik televisi yang seperti ini sangat terkait dengan karakteristik televisi yang bersifat sekilas dan searah. Jika menggunakan kalimat terbalik atau letak subyek dan predikat berjauhan, boleh jadi penonton lupa siapa mengatakan atau melakukan apa.

  • Menggunakan kalimat aktif, jangan menyembunyikan kata kerja yang kuat dibalik kata benda

Kalimat aktif lebih memiliki kekuatan dibanding kalimat pasif, kalimat aktif juga lebih dimengerti dibanding kalimat pasif. Karena televisi merupakan media yang mengandalkan kecepatan dan bersifat sekilas, penggunaan kalimat aktif membuat penonton lebih mudah memahami berita tekevisi.

  • Jangan terlampau banyak menggunakan angka-angka

Jika kita terlampau banyak menggunakan angka-angka, apalagi angka yang terlampau detil, pemirsa sulit mengingat apalagi memahaminya, karena itu, berhati-hatilah dalam menggunakan angka-angka. Jangan menggunakan angka-angka yang terlalu detil, penggunaan angka yang terlalu banyak dan detil juga membuat kalimat kita menjadi panjang, padahal seperti telah disebut diatas, kita sebaiknya menggunakan kalimat-kalimat pendek dalam berita televisi yang kita tulis.

Proses pembuatan berita terdiri dari dua tahap yaitu : Mengumpulkan materi dan mengedit materi tersebut. Editor gambar melakukan pekerjaan editing berdasarkan materi yang ada di video kaset. Kaset video memiliki kemampuan untuk menyimpan gambar dan suara yang masing-masing disimpan pada jalur tertentu pada pita kaset.

Fungsi Televisi

Televisi mempunyai manfaat dan unsur positif yang berguna bagi pemirsanya, baik manfaat yang bersifat kognitif, afektif maupun psikomotor. Namun tergantung pada acara yang ditayangkan televisi. Manfaat yang bersifat kognitif adalah yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan atau informasi dan keterampilan. Acara-acara yang bersifat kognitif di antaranya berita, dialog, wawancara dan sebagainya.

Manfaat yang kedua adalah manfaat afektif, yakni yang berkaitan dengan sikap dan emosi. Acara-acara yang biasanya memunculkan manfaat afektif ini adalah acara-acara yang mendorong pada pemirsa agar memiliki kepekaan sosial, kepedulian sesama manusia dan sebagainya.

Adapun manfaat yang ketiga adalah manfaat yang bersifat psikomotor, yaitu berkaitan dengan tindakan dan perilaku yang positif. Acara ini dapat kita lihat dari film, sinetron, drama dan acara-acara yang lainnya dengan syarat semuanya itu tidak bertentangan dengan norma-norma yang ada di Indonesia ataupun merusak akhlak pada anak.

Maka secara umum, fungsi televisi sama dengan fungsi media. Pendapat mengenai fungsi televisi ini pun beragam. Akan tetapi secara umum ada lima fungsi televisi yaitu sebagai alat informasi, media edukasi, fungsi kontrol serta menjadi media penghubung antar geografis.

1. Alat Informasi

Makanan adalah kebutuhan manusia yang paling dicari setiap makhluk yang hidup, termasuk manusia. Setiap orang baik anak-anak, dewasa, orang tua, dan siapapun semuanya membututuhkan makanan. Demi memenuhi kebutuhaan perutnya, semua orang rela bersusah payah sekuat tenaga hanya untuk mendapatkan sebuah makanan. Bahkan tak hanya satu kali dalam sehari mereka membutuhkan makanan, akan tetapi tiga kali dalam sehari manusia membutuhkanya.

Begitulah gambaran informasi. Kebutuhan manusia akan informasi telah menjadikannya layaknya sebuah makanan. Bahkan ketika awal mula manusia bangun dari tidurnya, secara spontan informasi pula yang muncul dalam benaknya untuk segera mengetahui jam berapa saat ia terbangun. Sederhananya, kebutuhan manusia akan informasi setidak-tidaknya informasi itu sampai kepada mereka dari mulut ke mulut. Hal ini sudah menjadi sebuah kebiasaan manusia sebagai makhluk sosial.

Seperti layaknya makanan tadi, terkadang seseorang tak akan puas hanya sarapan dengan sepiring nasi dengan lauk tempe. Kadang mereka menginginkan adanya pelengkap seperti sayur, susu, buah-buahan, bahkan terkadang bagi mereka yang terbiasa berpola hidup glamour, tak akan sudi memakan makanan yang murah seperti di angkringan misalnya, bagi orang dengan tingkat sosial dan pendidikan yang tinggi, kebutuhan dalam mendapatkan informasi ini tentu berbeda dengan mereka yang hidupnmya pas-pasan.

Ada orang yang puas hanya mendapatkan informasi dari perkataan seseorang saja, ada juga orang yang merasa hidupnya belum lengkap apabila belum membaca koran, update berita di internet, ataupun menonton televisi.

Kehadiran televisi menjadi sangat penting sebagai sarana hubungan interaksi antara yang satu dengan yang lain dalam berbagai hal yang menyangkut perbedaan, dan persamaan persepsi tentang suatu isu yang terjadi di belahan dunia ini. Dalam hal ini, massa kemudian menjadi objek dari sebuah liputan di televisi.

Informasi berkaitan dengan massa kemudian diolah dalam proses olah data audio visual sebagai paket dari pengemasan informasi. Kemudian ditransmisikan melalui sebuah pancaran digital yang diterima masyarakat sebagai sumber informasi.

Sebagai alat informasi, dari segi keefektiffitasan televisi tergolong media yang paling banyak peminatnya dibandingkan dengan media yang lain. Ada beberapa hal yang menjadi keunikan televisi dibandingkan dengan media yang lain yaitu: televisi tidak membutuhkan kemampuan membaca seperti media cetak, tidak seperti film, televisi adalah gratis, tidak seperti radio, televisi mengombinasikan gambar dan suara, tidak membutuhkan mobilitas, seperti pergi ke bioskop misalnya, satu-satunya medium yang pernah diciptakan yang tidak memiliki batasan usia artinya orang dapat menggunakan dalam tahun-tahun awal dan akhir dari kehidupan mereka, dan juga tahun-tahun diantaranya.Inilah kelebihan televisi dibanding dengan media yang lain.

Akan tetapi di dalam kelebihan itu pula terletak kekurangan yang diakibatkan dari media televisi sebagai alat informasi ini. Misalnya, menurunkan minat baca masyarakat, terbukti dengan adanya televisi disamping harganya yang relativ murah masyarakat lebih suka menonton televisi daripada membaca Koran ataupun browsing di internet; sebagai alat informasi, televisi lebih banyak menyajikan program hiburan daripada informasi atau pendidikan; televisi terkadang mencontohkan secara langsung hal-hal yang berkaitan dengan kebudayaan yang terkadang berlawanan dengan kebudayaan Indonesia, akhirnya stabilitas nasional pun semakin terancam.

2. Media Edukasi

Perkembangan zaman didunia pendidikan yang terus berubah dengan signifikan, merubah pola pikir pendidik, dari pola pikir yang awam dan kaku menjadi lebih modern. Hal tersebut sangat berpengaruh dalam kemajuan pendidikan di Indonesia. Jika dahulu orang ingin mempelajari sebuah ilmu pengetahuan, seseorang akan mendatangi sang guru dan menerima apa yang disampaikan oleh gurunya secara langsung. Berbeda dengan konteks yang ada di jaman sekarang.

Kehebatan media mampu mengambil alih peran guru dalam dunia pendidikan. Hampir segala bidang terkait dengan keilmuan bisa kita dapatkan dimana-mana melalui media, terlepas masalah penanggung jawab keilmuan yang disampaikanya. Sehingga banyak upaya yang diusahakan dalam peningkatan mutu pendidikan adalah pengembangan media pendidikan. Jadi, yang dimaksud dengan media pendidikan adalah alat, metode, dan teknik yang digunakan dalam rangka lebih mengefektifkan komunikasi dan interaksi antara guru dan siswa dalam proses pendidikan.

Julius Lende (2012) dalam artikelnya yang mengutip dari Hamalik (1989) mengatakan ciri-ciri umum dari media pendidikan adalah sebagai berikut:

  • Media pendidikan identik artinya dengan pengertian keperagaan yang berasal dari kata “raga”, artinya suatu benda yang dapat diraba, dilihat, didengar, dan yang dapat diamati melalui panca indera kita
  • Tekanan utama terletak pada benda atau hal-hal yang bisa dilihat dan didengar
  • Media pendidikan digunakan dalam rangka hubungan komunikasi dalam pengajaran
  • Media pendidikan adalah alat bantu mengajar, baik di luar kelas
  • Media pendidikan mengandung aspek; sebagai alat dan sebagai teknik, yang sangat erat pertaliannya dengan metode mengajar
  • Dari uraian tentang ciri-ciri media pendidikan seperti yang telah disebutkan di atas, maka dapat saya katakan bahwa Televisi merupakan media pendidikan yang sangat modern dan sangat cocok dalam usaha peningkatan mutu pendidikan.

Julius Lende (2012) dengan artikelnya yang mengutip dari Hamalik (1989), nilai atau manfaat media pendidikan adalah sebagai berikut:

  • Meletakkan dasar-dasar yang konkrit untuk berpikir, oleh karena itu mengurangi “verbalisme”
  • Memperbesar perhatian para siswa
  • Meletakkan dasar-dasar yang penting untuk perkembangan belajar, oleh karena itu membuat pelajaran lebih mantap,
  • Memberikan pengalaman yang nyata yang dapat menumbuhkan kegiatan berusaha sendiri di kalangan siswa
  • Menumbuhkan pemikiran yang teratur dan berlanjut, hal ini terutama dapat dalam gambar hidup
  • Membantu tumbuhnya pengertian, dengan demikian membantu perkembangan kemampuan berbahasa
  • Memberikan pengalaman-pengalaman yang tidak mudah diperoleh dengan cara lain serta membantu berkembangnya efisiensi yang lebih mendalam serta keragaman yang lebih banyak dalam belajar.

Dengan demikian tolak ukur sudut pandang media pendidikan terhadap tayangan di televisi dipandang sebagai salah satu media pendidikan, dengan catatan apabila tayangan tersebut dapat memberikan informasi yang berkualitas dan memiliki nilai pendidikan moral dan ilmu pengetahuan.

3. Kontrol Sosial

Dalam konteks televisi sebagai kontol sosial, setidaknya televisi mempunyai sebuah fungsi sebagai gambaran kehidupan sosial dalam suatu negara. Dalam hal ini maka televisi berperan sebagai minatur sebuah negara. Melalui televisi itulah seseorang dapat mengetahui bagaimana sebuah sistem kehidupan sosial itu diciptakan.

Untuk lebih konkritnya, sebuah kenyataan ini bisa kita lihat misalnya ketika kita membandingkan sebuah produk film asli Indonesia dengan produk film yang diproduksi oleh negara lain, dari situ kita bisa melihat perbedaan yang sangat menonjol.

Faktor kemajuan sebuah negara akan sangat terlihat dalam sebuah produksi perfileman. Contohnya saja kita bisa membandingkan film yang hingga sekarang masih mendominasi kancah layar kaca Indonesia adalah film yang berbau mistis, percintaan, hingga pertikaian perebutan warisan. Hal ini akan sangat berbeda jika kita bandingkan dengan produksi yang ada di negara yang lebih maju.

India misalnya, sekitar lima hingga sepuluh tahun yang lalu, hampir setiap film yang disajikan di India ini mengangkat film yang bertemakan percintaan yang identik dengan tarian-tarian khas masalnya. Tetapi di era saat ini, seiring dengan kemajuan teknologi yang semakin pesat yang dialami oleh negara India, sekarang telah diproduksi film yang lebih mengangkat kepada tema tekhnologi seperti film Ra One misalnya. Itulah realita yang ada dalam layar kaca sebagai sebuah gambaran tentang kondisi soasial sebuah negara.

Selain kita melihat dengan konteks di atas, peran media dalam kaitan fungsinya sebagai kontrol sosial juga bisa kita lihat dengan aspek yang lain. Sebagai media yang memungkinkan mudahnya teraksesnya informasi, maka sangat memungkinkan adanya pertukaran informasi antar masyarakat, etnis, ataupun segala macam kebudayaan. Sehingga secara social masyarakat dapat saling memperhatikan satu sama lain demi terciptanya stabilitas social dalam sebuah Negara.

Bahkan seiring dengan teknologi pemancar televisi yang semakin canggih hingga akses televisi seperti sekarang ini tak hanya kita nikmati dalam skala nasional saja akan tetapi internasional. Denga demikian, pertukaran informasi dalam lingkup internasional ini akan membawa dampak yang penting bagi kelangsungan hubungan diplomasi antar negara. Sebagai fungsi ini, peran televisi tak dapat dipungkiri.

Misalnya adalah, ketika terjadi sebuah bencana, maka secara spontan semua masyarakat akan tahu, bahkan hal itu akan sangat memungkinkan untuk mendapatkan simpati dari Negara lain. Tentunya melalui televisi. Maka secara tanggap pula bantuan logistic untuk daerah yang tertimpa musibah akan segera berdatangan dari negara-negara tetangga misalnya.

4. Fungsi hiburan

Sekarang ini, Indonesia sedang dalam era pancaroba, dimana ketika memasuki gerbang zaman globalisasi yaitu masa dimana segala bidang kehidupan berada diambang tinggal landas seiring dengan pesatnya perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK). Hal ini tidak mengecualikan kemajuan yang begitu pesat dalam berbagai bidang termasuk salah satunya industri hiburan, apalagi hal ini salah satunya dipicu oleh ambisi mengejar rating di hati masyarakat.

Tidak seperti zaman nenek moyang dahulu, masyarakat kita sekarang ini disuguhi berbagai macam media hiburan dari panggung hiburan hingga media yang lebih bersifat personal seperti televisi. Jika jaman dahulu sebelum tiba masa trend televisi masyarakat lebih mencari kegiatan hiburan secara langsung dengan pertunjukan misalnya seperti ketoprak, wayang dan lain sebagainya, namun lain halnya dengan sekarang dimana masyarakat lebih dimanjakan dengan media hiburan yang ada di televisi.

Hadirnya televisi di tengah hiruk pikuk kehidupan ini dapat membangkitkan gairah masyarakat mulai dari perkotaan hingga pelosok-pelosok desa. Apalagi sekarang stasiun-stasiun televisi swasta banyak bermunculan mewarnai layar kaca dengan suguhan-suguhan yang lebih memanjakan pemirsa terutama dengan sajian hiburanya. Bahkan setiap pengelolanya berebut “prime time “(waktu tayang terbaik) demi mendapat tempat spesial di hati pemirsanya.

Memang hadirnya televisi pada sebuah rumah tangga bukan menjadi kebutuhan mewah lagi. Hal ini terbukti bahwa yang dulunya televisi hanya bisa dinikmati kaum elite saja, namun sekarang rakyat kecil pun juga memiliki televisi. Jadi televisi adalah media entertainment yang sudah merakyat dan digandrungi berbagai kalangan.

Fungsi media yang satu ini, hampir semua masyarakat tahu bahwa televisi berfungsi sebagai hiburan. Kenyataan ini memang benar, bisa kita amati hampir di semua stasiun televisi tak ada yang meninggalkan sebuah program yang sifatnya hiburan.

Bahkan sebuah acara berita sebagai fungsi informasi saja sekarang telah banyak media yang membuat konsep acara berita seperti komedi. Ini membuktikan bahwa masyarakat Indonesia lebih menikmati keberadaan media sebagai media hiburan dibandingkan dengan fungsi yang lain.

5. Media Penghubung Secara Geografis

Dahulu, jika seseorang ingin pergi ke sebuah tempat yang ia inginkan, maka ia harus menempuh suatu perjalanan dengan kaki maupun dengan perjalanan kuda yang tak sedikit memakan waktu berhari-hari bahkan mungkin hingga berbulan-bulan.

Kenyataan yang telah berubah sedemikian cepatnya seperti yang terjadi saat ini, untuk menempuh sebuah perjalanan dengan lingkup yang luas sekalipun, bahkan ke seluruh penjuru dunia yang ia inginkan, hanya dengan hitungan beberapa jam saja ia sudah sampai ke tempat tujuan tersebut dengan fisik tubuh yang menyertainya.

Apalagi sebuah komponen data yang sangat lembut yang secara fisik tidak bisa kita lihat, seperti halnya sebuah sinyal yang membawa informasi, dalam hitungan menit bahkan detik, informasi yang kita kirimkan sudah bisa diketahui oleh pihak yang kita tuju.

Inilah kecanggihan teknologi yang semakin hari semakin pesat sehingga waktu yang lama terasa semakin cepat, sebuah wilayah yang luas semakin terasa sempit. Segala pekerjaan manusia semakin mudah untuk dilakukan. Semakin mudah untuk diselesaikan dengan teknologi.

Marshall McLuhan dengan teorinya yang desebut sebagai teori ekologi media membuat sebuah asumsi bahwa, media melingkupi setiap tindakan di dalam masyarakat, media memperbaiki persepsi kita dan mengorganisasikan pengalaman kita, media menyatukan seluruh dunia, kemudian dikenal dengan istilah “desa global” yaitu sebuah pemikiran bahwa manusia tidak lagi dapat hidup dalam isolasi melainkan akan selalu terhubung oleh media elektronik yang bersifat instan dan berkesinambungan.

Disinilah kemudian secara geografis dunia yang luas akhirnya dengan perantaraan televisi sebagai media penghubung menjadikan dunia layaknya hanya sebuah lingkup kecil desa yang semua orang dapat mengakses informasi ke seluruh penjuru dunia dengan televisi.

Peran besar televisi sebagai media yang sangat berpegaruh terhadap kehidupan masyarakat seharusnya selalu memperhatikan segala aspek kepentingan yang sesui dengan peraturan yang telah ditetapkan. Industrialisasi dalam sebuah media seharusnya jangan menjadi prioritas awal dalam menempatkan tujuanya.

Generasi bangsa seharusnya dipertahankan jangan sampai mereka teracuni dengan hadirnya media fungsi televisi yang seharusnya harus segera dikembalikan sebagai hak masyarakat pengonsumsi media.

Hal itu terbukti bahwa, berbagai paket acara untuk memanjakan pemirsanya mulai dari sinetron, film, tayangan berita maupun reality show selalu ditampilkan eksklusif oleh pihak pengelola televisi. Disini, pihak televisi menayangkannya hanya bertolak dari segi entertainment atau bahkan hanya bertolak dari segi bisnis di dunia hiburan.

Dari kesemuanya itu mereka hanya berusaha menghadirkan hiburan-hiburan segar yang dapat menghilangkan kepenatan setelah beraktivitas tanpa ada maksud untuk meracuni pemirsanya dengan “black list” tayangan tersebut.

Nah, itulah sejarah terciptanya televisi. Gimana? Setelah kamu membaca artikel diatas, mungkin sekarang kita tahu bagaimana proses terciptanya televisi. Semoga artikel diatas bisa sangat bermanfaat dan menambah wawasan kita ya.

  • facebook
  • googleplus
  • twitter
  • linkedin
  • linkedin
Previous «
Next »